Tiongkok Catat Lonjakan Gagal Bayar Kartu Kredit di Kalangan Peminjam Usia Menengah

Bank-bank di Tiongkok menghadapi lonjakan gagal bayar kartu kredit di kalangan peminjam usia menengah, termasuk lulusan universitas yang bekerja tetap di sektor publik. Dulu bank berlomba menyalurkan kredit kepada kelompok ini karena pembayaran dinilai andal. Kini tunggakan melonjak seiring perlambatan ekonomi dan mendorong pemberi pinjaman mempercepat penjualan portofolio kredit bermasalah. Pusat Registrasi dan Sirkulasi Aset Kredit Perbankan (Banking Credit Assets Registration and Circulation Centre) mencatat pertumbuhan sekitar 50% pada nilai kredit macet terdaftar sepanjang kuartal terakhir. Lembaga ini merupakan platform resmi di Tiongkok bagi bank dan perusahaan pembiayaan konsumen untuk mencatatkan sekaligus memperdagangkan portofolio utang macet. Portofolio kredit macet yang baru terdaftar mencapai 148,1 miliar yuan (US$22,2 miliar), termasuk pokok dan bunga, pada kuartal ketiga 2026. Tunggakan kartu kredit menyumbang 35,2% dari nilai tersebut, kategori tunggal terbesar. Hingga Kamis, platform itu telah menerima 82 pencatatan portofolio baru pada Oktober. Sebagian besar pemberi pinjaman menempatkan rata-rata usia pemegang kartu menunggak pada rentang 40-50 tahun, sementara Ping An Bank menyebut mereka peminjam usia menengah. Analis dan kalangan dalam industri perbankan menilai pemegang kartu usia menengah kini menjadi risiko kredit terbesar. Di Amerika Serikat, gagal bayar kartu kredit secara tradisional justru dikaitkan dengan peminjam muda. Laporan Februari dari Federal Reserve Bank of New York menemukan tingkat transisi tunggakan serius yang lebih tinggi pada peminjam usia 20-39 tahun dibanding kelompok lebih tua pada kuartal terakhir 2025, dengan penggunaan kredit lebih besar dan cadangan kas lebih tipis sebagai pendorong utama. Analis kartu kredit independen Dong Zheng menilai perbedaan itu sebagian mencerminkan konsentrasi pengguna kartu kredit Tiongkok pada kelompok usia menengah. Peminjam muda, katanya, makin memilih layanan pinjaman daring. Menurut Dong, orang berusia 40-an menjadi rentan saat pertumbuhan ekonomi melemah karena KPR, dukungan keluarga, dan biaya pengasuhan anak menciptakan kewajiban finansial. Seorang manajer operasional kartu kredit di kantor cabang bank pelat merah di Shanghai mengatakan mayoritas pemegang kartu menunggak beralasan pemotongan gaji tajam atau pemutusan hubungan kerja saat proses penagihan. Ia berbicara dengan syarat anonim karena tidak memiliki izin untuk berkomentar di depan publik. Peminjam terdampak memprioritaskan KPR dan belanja keluarga demi melindungi rumah, sementara tagihan kartu yang telat hanya merusak rekam kredit tanpa dampak praktis yang besar dalam jangka pendek. Menurutnya, makin banyak peminjam menunggak berasal dari pekerjaan yang tampak stabil, termasuk perusahaan milik pemerintah Shanghai dan instansi pemerintahan. China Everbright Bank yang berbasis di Beijing mencatatkan portofolio kredit macet lebih dari 10 miliar yuan pada Agustus. Bank itu menyebut sebagian besar peminjam berijazah perguruan tinggi atau lebih tinggi. Jiangsu Lishui Rural Commercial Bank menggambarkan peminjam dalam salah satu portofolionya sebagai sosok yang cakap secara profesional dan menilai potensi pembayaran mereka relatif tinggi. Dong mengaitkan banyak persoalan saat ini dengan ekspansi cepat penggunaan kartu kredit pada pertengahan 2010-an. Pemberi pinjaman memakai ambang persetujuan yang sangat rendah untuk memperluas basis nasabah, terutama di kalangan pegawai instansi pemerintah dan BUMN. Manajer bank pelat merah itu menuturkan bank mempercayai mereka sebagai nasabah berkualitas tinggi, dan lemahnya pemeriksaan latar belakang telah menciptakan risiko sejak bertahun-tahun lalu. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, pemberi pinjaman mencatatkan portofolio senilai total 322,2 miliar yuan di Pusat Registrasi dan Sirkulasi Aset Kredit Perbankan, naik 26,4% dari periode yang sama tahun lalu. Pengamat memperkirakan rasio kredit macet kartu kredit tetap tinggi. Analis Huayuan Securities di Wuhan, Liao Zhiming, mengatakan bertambahnya kredit macet dan persyaratan regulasi yang lebih ketat membuat lebih banyak pemberi pinjaman membatasi penerbitan kartu kredit baru. Persetujuan longgar di masa lalu, tambahnya, akan menjaga rasio kredit macet tetap tinggi. Liao menyebut persoalan ini sebagai isu sosial dan rasio gagal bayar pasti naik ketika warga menghadapi risiko pendapatan maupun pekerjaan.