Goldman Sachs: Aksi Jual Saham Teknologi Cetak Rekor, Dagang AI Bergeser dari Narasi ke Realisasi Pendapatan
Huoxing Finance melaporkan, pada 24 Oktober Rich Privorotsky, Head of Institutional Equity and Fixed Income Trading Goldman Sachs Eropa, menyebut pekan lalu mencatat aksi jual saham teknologi terbesar yang pernah tercatat di buku prime brokerage Goldman Sachs. Posisi long AI dan short aset lain yang sebelumnya terlalu padat kini mulai terurai. Investor menuntut perusahaan AI membuktikan belanja modal jumbo mereka bisa dikonversi menjadi pendapatan riil.
Privorotsky mencatat pasar memperkirakan belanja modal AI mencapai USD 1,1 triliun tahun depan. Belanja besar saja tidak lagi cukup untuk menopang valuasi. Penyedia layanan cloud juga harus membuktikan bahwa pesanan berujung pada pendapatan dan perbaikan arus kas bebas. Infrastruktur AI menghadapi kendala nyata, dengan kekurangan pasokan listrik 40-50 gigawatt tahun depan, sementara penyedia cloud berleverage tinggi tertekan dari sisi pembiayaan.
Ia menilai ekonomi global bergeser dari era kelebihan tabungan ke era kelebihan belanja. Investasi AI dan defisit fiskal pemerintah bersama-sama mendorong biaya modal naik dan menurunkan selera risiko pasar. Saat ini investor khawatir pada dua sisi sekaligus: pasokan daya komputasi yang kurang dan potensi kelebihan kapasitas di masa depan. Dagang AI pun berada di bawah pengawasan ganda, yakni potensi monetisasi dan imbal hasil investasi.
Meski risiko jangka pendek meningkat, Privorotsky menyebut harga komputasi spot terus naik di tengah permintaan yang kuat. Sejumlah aset di sektor elektrifikasi, kedirgantaraan komersial, dan transportasi yang sudah banyak dijual juga mulai menunjukkan nilai investasi.