Jepang Diduga Gelontorkan ¥8,45 Triliun (US$53 Miliar) untuk Menahan Pelemahan Yen terhadap Dolar
Ringkasan Pasar AI
Intervensi pembelian yen yang diduga memecahkan rekor Jepang sebesar ~US$53 miliar sempat menguatkan JPY dan mendorong USD/JPY turun tajam sebelum terjadi pembalikan sebagian setelah BOJ mempertahankan suku bunga di 1%. Komentar yang mengindikasikan dukungan AS menaikkan ambang untuk menguji pelemahan yen dan dapat meningkatkan volatilitas FX jangka pendek di seluruh Asia. Yen yang lebih kuat juga memperketat kondisi risiko global dengan melepas posisi carry yang didanai yen, yang memengaruhi penentuan posisi ekuitas dan kripto.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
NCFXUSD2JPY/USDT-1.13%
Wawasan AI · NCFXUSD2JPY/USDTWawasan AI
● Netral
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Pasangan USD/JPY kembali tertekan setelah Tokyo diduga masuk ke pasar untuk memperlambat pelemahan yen yang mendekati level terendah dalam hampir empat dekade.
Perkiraan pasar menunjukkan Jepang kemungkinan membeli yen dan menjual dolar sekitar ¥8,45 triliun, setara US$52,8 miliar, pada Kamis. Estimasi ini mengacu pada pergerakan rekening bank sentral serta proyeksi pialang uang. Jika benar, langkah tersebut berpotensi menjadi intervensi valuta asing satu hari terbesar yang pernah dilakukan Jepang.
Aksi itu terjadi setelah yen sempat melemah menembus 163 per dolar pada awal bulan ini, memicu kekhawatiran kenaikan biaya impor. Jepang disebut bertindak saat sesi New York dan ini akan menjadi operasi pembelian yen pertama dalam tiga bulan terakhir. Dampaknya, yen sempat menguat hingga 3%, menarik USD/JPY dari area mendekati 164 ke bawah 158.
Penguatan yen kemudian mereda setelah Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga kebijakan di 1%. USD/JPY sempat memantul lagi ke atas 160 sebelum bergerak lebih dekat ke 159.
Menteri Keuangan Satsuki Katayama menolak mengonfirmasi adanya intervensi. Ia menegaskan otoritas Jepang "selalu siap merespons dengan rasa urgensi" terhadap pergerakan nilai tukar.
Fokus pasar juga tertuju pada kemungkinan dukungan dari Amerika Serikat. Pejabat valuta asing utama Jepang, Atsushi Mimura, juga tidak mengonfirmasi operasi tersebut, tetapi menyebut Jepang menerima dukungan AS yang "melampaui dukungan psikologis". Saat ditanya apakah otoritas AS terlibat, Mimura mengatakan dukungan itu "akan mencakup" pemeriksaan kurs (rate checks), yaitu praktik ketika bank sentral meminta kuotasi dealer sebelum kemungkinan tindakan pasar.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent turut menyatakan Jepang mungkin bertindak untuk menopang yen dan menilai yen "tampak sangat undervalued". Pernyataan tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap sejauh mana Washington mendukung langkah Tokyo. Belum ada pernyataan resmi yang memastikan otoritas AS menjual dolar secara langsung.
Pada hari yang sama, Korea Selatan juga dilaporkan menjual dolar untuk mendukung won. Won sempat menguat sekitar 2% ke level tertinggi sembilan bulan sebelum memangkas sebagian kenaikannya. Aksi serempak Jepang dan Korea Selatan muncul di tengah tekanan biaya impor energi akibat melemahnya mata uang Asia. Kenaikan harga minyak yang terkait ketegangan Timur Tengah menambah kekhawatiran tersebut.
Dari sisi kebijakan moneter, BOJ mempertahankan suku bunga di 1% setelah dugaan intervensi. Satu anggota dewan mendukung kenaikan ke 1,25%, tetapi mayoritas memilih menahan suku bunga. Pasar kini menunggu arahan Gubernur Kazuo Ueda terkait jalur kenaikan suku bunga berikutnya. Jalur pengetatan yang lebih cepat berpotensi menopang yen, sedangkan pendekatan yang lebih hati-hati dapat membuka ruang tekanan baru pada mata uang tersebut.
Sebagai catatan, Jepang menghabiskan ¥11,7 triliun (sekitar US$73 miliar) pada akhir April hingga awal Mei untuk mendukung yen. Intervensi itu hanya menghasilkan pemulihan sementara sebelum yen kembali melemah ke level terendah baru. Operasi terbaru akan menghadapi ujian serupa: pembelian yen dalam jumlah besar dapat meredam pergerakan tajam, tetapi penguatan yang bertahan biasanya ditentukan oleh arah suku bunga, inflasi, harga minyak, serta pergerakan dolar.
Meredanya tekanan mata uang turut mendukung pasar saham Asia. Saham teknologi menguat dan indeks Nikkei Jepang naik sekitar 5%, sementara KOSPI Korea Selatan serta Taiex Taiwan juga menguat. Yen yang menguat dapat memengaruhi aset berisiko global karena yen kerap dipakai sebagai mata uang pendanaan; penguatan mendadak dapat memaksa pelaku pasar memangkas posisi di saham dan kripto.
Dengan dukungan dari dugaan intervensi yang bersifat sementara, USD/JPY masih bertahan di atas 159 setelah BOJ menahan suku bunga. Pelaku pasar menanti sinyal lanjutan dari pejabat Jepang dan Gubernur Kazuo Ueda, apakah langkah di pasar valuta akan diikuti jalur kenaikan suku bunga yang lebih cepat.