Metaplanet Tambah 2.823 BTC pada Kuartal II, Catat Rugi Belum Terealisasi US$1,5 Miliar
Ringkasan Pasar AI
Pengungkapan Q2 Metaplanet menyoroti akumulasi BTC yang lebih lambat serta kerugian belum terealisasi sekitar $1.5B setelah penurunan BTC kuartalan >20%. Perusahaan semakin mengandalkan utang dan pendapatan dari opsi karena pembelian yang didanai ekuitas menjadi kurang layak ketika premi mNAV perusahaan-treasury menyempit, sebuah kendala yang juga disebutkan oleh Strategy. Pembaruan ini menegaskan kondisi pembiayaan yang lebih ketat untuk treasury BTC korporasi, yang berpotensi meredam kenaikan permintaan institusional tambahan melalui kendaraan ini.
Level dampak
● Sedang
Aset terdampak
BTC/USDT+2.43%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
● Netral
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Metaplanet memperlambat laju pembelian bitcoin pada kuartal II, tetapi tetap menambah kepemilikan. Dalam pengungkapan pada Juni, perusahaan investasi asal Jepang itu melaporkan akumulasi 2.823 BTC, sehingga total simpanannya menjadi 43.000 BTC.
Total belanja pembelian tersebut mencapai sekitar ¥35,9 miliar (sekitar US$222 juta), dengan estimasi harga rata-rata pembelian mendekati US$78.608 per BTC. Ini menjadi pembelian kuartalan terkecil Metaplanet dalam setahun. Perlambatan itu kontras dengan periode sebelumnya, ketika perusahaan sempat membeli 17.473 BTC pada kuartal III 2025.
Meski ritme pembelian mendingin, manajemen masih memasang target agresif: 100.000 BTC pada akhir 2026 dan 210.000 BTC pada akhir 2027. Dengan penurunan kecepatan belanja terbaru, target tersebut terlihat semakin menantang.
Alasan kehati-hatian tampak dari neraca perusahaan. Per 30 Juni, Metaplanet menilai 43.000 BTC miliknya sekitar ¥409 miliar (US$2,5 miliar), jauh di bawah total biaya perolehan ¥659 miliar (US$4,07 miliar). Selisihnya berarti rugi belum terealisasi sekitar US$1,5 miliar. Sepanjang kuartal tersebut, harga bitcoin turun lebih dari 20% dan menutup Juni di kisaran US$58.800 menurut CoinGecko.
Untuk mendanai pembelian, Metaplanet lebih mengandalkan pembiayaan utang, termasuk memanfaatkan fasilitas kredit dan menerbitkan obligasi biasa. Perusahaan juga membukukan sekitar US$10,95 juta dari program opsi bertajuk "Bitcoin Income Generation".
Metaplanet menyatakan hanya menerbitkan saham biasa baru saat kapitalisasi pasarnya melampaui nilai kepemilikan bitcoinnya. Pembedaan ini penting bagi perusahaan model "treasury": mereka bergantung pada perdagangan di atas nilai aset bersihnya (mNAV) agar bisa menerbitkan ekuitas untuk membeli bitcoin tanpa menggerus pemegang saham lama. Ketika premi tersebut menipis di industri, strategi akumulasi yang dibiayai ekuitas menjadi semakin tidak menarik.
Tekanan ini juga dirasakan pelaku lain. Strategy, pionir perusahaan treasury bitcoin, baru-baru ini menyampaikan kemungkinan menjual hingga US$1,25 miliar bitcoin untuk memperkuat likuiditas, serta akan menghentikan penggalangan ekuitas untuk membeli lebih banyak bitcoin kecuali kembali diperdagangkan dengan premi, setelah mNAV-nya turun ke 0,99. Metaplanet menghadapi tekanan serupa.
Di tengah perlambatan pembelian, Metaplanet memperluas lini bisnis terkait bitcoin. Perusahaan meluncurkan unit ventura, mengakuisisi perusahaan sekuritas Jepang untuk mengembangkan produk imbal hasil yang terhubung dengan bitcoin, membukukan rugi kuartal I sebesar ¥??? (dilaporkan) atau US$725 juta, serta menunda rencana penjualan saham preferen. (Catatan: rugi kuartal I dilaporkan oleh perusahaan; penundaan penjualan saham preferen diungkap bersamaan dengan dokumen pengajuan.)
Reaksi pasar relatif datar. Saham Metaplanet di pasar OTC AS (MTPLF) naik 2,4% menjadi US$1,27 pada Rabu menjelang pengajuan dokumen, sementara sahamnya yang tercatat di Tokyo (3350) ditutup pada Kamis di ¥207 (US$1,28).
Intinya, Metaplanet masih berkomitmen menambah kepemilikan BTC, tetapi rugi belum terealisasi yang membengkak, pelemahan harga BTC, dan menyusutnya premi mNAV mendorong strategi permodalan yang lebih konservatif. Target akumulasi 2026–2027 kini terlihat lebih sebagai ambisi daripada kepastian.